Meminang

Sejarah penting dalam hidup manusia termasuk bagi seorang Yudhi Baslau.

Nice Moment

Sampai kapanpun masa-masa berkumpul bersama kawan-kawan akan selalu menjadi kenangan manis untuk diingat.

Ekspresi Diri

Seni sastra termasuk membaca puisi cara murah dan mudah untuk mengusir gundah dan galau.

Mun Lain Kita Siapa Pang Lagi

Saatnya Berbuat Bersama Melestarikan Seni Budaya Kalimantan.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 10 Mei 2017

Hal Yang Harus Dihindari Kalau Mau Kaya

VIVA.co.id – Setiap orang di dunia sebenarnya memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mendapatkan pundi-pundi kekayaan yang melimpah asalkan mau berusaha dengan keras. Tapi, banyak juga orang di dunia ini yang tidak bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.
Dilansir dari laman Business Insider, pada Senin 8 Mei 2017, untuk mengetahui apakah Anda telah mempersiapkan diri untuk mencapai masa depan, berikut lima tanda yang bisa menunjukkan apakah Anda tidak berada di jalur yang benar untuk mencapai tujuan.

1. Anda hanya bekerja keras tapi tidak pintar.

Di sekolah, kita belajar bahwa kerja keras akan membawa kita ke depan dalam kehidupan. Tapi, "itu hanya setengah cerita," kata penasihat keuangan Ric Edelman.
"Jika semua yang Anda lakukan dalam hidup adalah bekerja sangat keras, Anda tidak akan pernah menjadi kaya raya," tambahnya. Untuk itu menurut Edelman untuk memastikan kekayaan masa depan, Anda harus bekerja cerdas. Salah satu caranya yaitu menginvestasikan uang Anda di pasar saham atau dana pensiun.

2. Anda terlalu menekankan pada penghematan

Cara melakukan penghematan terlalu keras juga bisa jadi masalah, sebaiknya Anda lebih fokus untuk meningkatkan penghasilan. Sebab, menabung memang sangat penting untuk membangun kekayaan, tapi Anda mulai mengabaikan penghasilan, padahal itulah fokus orang kaya.
"Jika Anda ingin mulai berpikir seperti orang kaya, berhentilah mengkhawatirkan kehabisan uang dan fokus pada bagaimana membuat lebih banyak".

3. Anda membeli barang-barang yang tidak mampu Anda beli.

Jika Anda hidup di atas kemampuan Anda, Anda tidak akan menjadi kaya. Bahkan jika Anda mulai menghasilkan lebih banyak atau mendapatkan kenaikan yang lumayan, jangan gunakan itu sebagai pembenaran untuk memberi diri Anda kenaikan gaya hidup.
"Saya tidak membeli jam tangan atau mobil mewah pertama saya sampai bisnis dan investasi saya menghasilkan banyak arus pendapatan yang aman," tulis jutawan Grant Cardone at Entrepreneur.

4. Anda puas dengan gaji tetap.

Rata-rata orang memilih untuk mendapatkan pembayaran berdasarkan periodenya saja dengan gaji tetap atau tarif per jam, sementara orang kaya memilih untuk mendapatkan bayaran berdasarkan hasil dan biaya wiraswasta.

5. Anda belum mulai berinvestasi.

Salah satu cara paling efektif untuk menghasilkan lebih banyak uang dari waktu ke waktu adalah menginvestasikannya, dan semakin awal Anda memulai, semakin baik.
"Rata-rata jutawan menginvestasikan 20 persen pendapatan rumah tangga mereka setiap tahunnya. Kekayaan mereka tidak diukur dengan jumlah yang mereka buat setiap tahun, tapi dengan bagaimana mereka telah diselamatkan dan diinvestasikan dari waktu ke waktu," tulis Ramit Sethi dalam buku best seller New York Times-nya. 'Saya Akan Mengajar Anda untuk Menjadi Kaya'.

Senin, 01 Mei 2017

Menengok Ragam Tradisi Kawinan Ala Balangan

Bausung pengantin ternyata hanya satu dari sekian banyak tradisi dalam resepsi perkawinan di Kalimantan Selatan. Tradisi-tradisi serupa dapat ditemui di daerah pahuluan. Salah satunya di Kabupaten Balangan.
------------------------------------------------
UNTUK tradisi saat perkawinan, Balangan tidak hanya memiliki satu, namun beberapa, bahkan berbeda-beda di setiap kecamatannya.

Balawang Tujuh Bagunung Api merupakan satu dari beragam tradisi perkawinan di masyarakat Balangan. Tradisi ini dilakukan khusus oleh pasangan pengantin yang berstatus duda atau janda.

Berbeda dengan bausung, tradisi ini dilaksanakan pada malam hari. Karena menurut budaya warga sekitar, apabila janda atau duda menikah, maka resepsinya dilakukan di waktu malam.

Menurut salah seorang warga sekitar, Hj Asanah (53), dinamakan balawang tujuh bagunung api, karena ada tujuh pintu masuk yang dibuat dari sarung atau tali di halaman rumah mempelai.

Sementara istilah bagunung api diambil dari obor yang ditancapkan dirangka menyerupai atap rumah atau gunung, mengelilingi tujuh pintu. Selain juga untuk penerangan.

Perjalanan sepasang penganten dalam melewati ketujuh pintu itu sebelum duduk di pelaminan yang berada di dalam rumah, dilengkapi dengan iringan alunan musik panting dari penabuh.

Selain sebagai hiburan karena resepsi perkawinan dilakukan di malam hari, tradisi ini kata dia juga menyimpan pilosofi bahwa bersama-sama memasuki tujuh pintu itu diibaratkan dengan bersama-sama mengambil pelajaran dari pengalaman, untuk mengatasi berbagai permasalahan di keluarga.

"Dulu tradisi ini dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah Balangan, tapi sekarang hanya bisa dilihat di Kecamatan Lampihong dan di desa-desa tertentu pula," ujarnya.

"Pung pung halu, gara gicak giyang-giyang, takumpul sama pada balu jangan bahiri nang bujang, Pung pung halu gara gicak giyang-giyang, asal jangan Bamadu dihadangi siang malam. Naik malam, baliliukan balawang tujuh, Bagunung Api".

Itulah sepenggal syair yang biasa dinyanyikan untuk mengiring sepasang mempelai mengarungi tujuh pintu dengan diiringi gunungan api.

Serupa namun tak sama, tradisi perkawinan lainnya di Balangan yaitu Jalan Liuk yang hingga kini masih dilestarikan oleh warga Deaa Marias Kecamatan Juai.

Kedua tradisi ini sama-sama dilaksanakan pada malam hari dan di tanah lapang. Namun ini tidak untuk duda ataupun janda, melainkan semua pasangan yang melangsungkan resepsi perkawinan.

Dalam tradisi ini, kedua mempelai harus masuk lewat pintu berbeda, dan memecahkan teka-teki jalan berliku (Liuk, Red) menyerupai labirin supaya bisa bertemu di tengah-tengahnya.

Menurut salah satu tokoh warga sekitar yang juga pelaku seni tradisi ini H Syarpani mengungkapkan, Jalan Liuk ini sudah menjadi tradisi turun-temurun di masyarakat Juai dan hingga kini masih dilestarikan.

"Pesan yang tersirat di dalamnya yaitu bahwasanya dalam mengarungi rumah tangga pasti mengalami berbagai masalah, tidak lurus-lurus saja, namun berlika-liku," terangnya. (yud)

Sabtu, 29 April 2017

Kala Adat Istiadat Leluhur Mulai Pudar

Dayak Meratus Halong Tunjukkan Pesonanya

Dewan Adat Dayak (DAD) Balangan secara rutin setiap tahunnya mengadakan kegiatan yang berpusat di Desa Kapul, Kecamatan Halong, Balangan. Bertajuk Pesona Dayak Meratus.
------------------------------------------------
SECARA kasat mata, kegiatan ini diadakan untuk menghidupkan geliat wisata budaya di Bumi Sanggam, hingga meningkatkan petekonomian warganya.

Namun ada cita-cita yang lebih besar terselip di baliknya, yaitu menanamkan dan mengajak para generasi penerus suku Dayak Meratus Halong, supaya peduli dan melestarikan adat istiadat budaya leluhur yang mulai ditinggalkan, terkikis oleh kemajuan jaman.

Sudah tiga kali Dayak Meratus Halong menunjukkan pesonanya setelah pelaksanaan pertama pada tahun 2015 lalu. Semua yang dihadirkan tidak lepas dari pernak-pernik kebudayaan masyarakat suku dayak Meratus yang hidup harmoni berdampingan dengan alam.

Sehingga gelaran festival Pesona Dayak Meratus ini benar-benar menjadi gambaran nyata tentang kebudayaan dayak Meratus dalam menjalani kehidupan sehari-hari, meskipun masih ada yang tidak bisa dihadirkan, seperti ragam ritual adat.

Menumbuk padi, membuat anyaman, menyumpit dan permainan tradisional seperti bagasing, mutuu, balugu, kenje merupakan sebagian dari seluruh kebudayaan dayak Meratus yang ditampilkan.

Tak ketinggalan juga  pameran kerajinan, kuliner, wisata alam serta pengobatan tradisional, semuanya itu merupakan sebagian kecil dari kearifan lokal komunitas masyarakat penghuni pegunungan meratus tersebut.

Sekretaris DAD Balangan, Eter Nabiring mengakui bahwa diselenggarakannya acara ini, tak terlepas dari kegelisahan pihaknya akan pergaulan generasi penerus dayak, yang semakin hari semakin jauh dengan adat istiadat leluhur.

"Kalau bukan kita yang tua-tua ini yang memperkenalkan kembali kepada anak-anak lalu siapa lagi? Boleh bahkan harus mengikuti perkembangan jaman, tapi jangan sampai meninggalkan kearifan lokal yang sudah diajarkan turun-temurun," tukasnya.

Eter juga tak menampik, bahwa masih banyak kekurangan yang didapati dari setiap kegiatan kali ini, dan itu akan menjadi pembelajaran pihaknya ke depan agar pelaksanaan selanjutnya bisa lebih baik lagi.

"Setiap kekurangan yang ada di tahun sebelumnya selalu kita benahi pada pelaksanaan selanjutnya. Begitu terus-menerus hingga menghasilkan produk terbaik suatu saat nanti, yang dapat merangkul dua sisi kepentingan," katanya optimis.

Sementara itu, menurut Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Balangan, Mandan mengungkapkan, yang menjadi kenndala utama pada pelaksanaan tahun ini yaitu terkait luasan lahan.

"Jumlah pengunjung setiap tahunnya selalu meningkat, begitu juga dengan tahun ini yang sangat padat, tak sebanding dengan lahan dimana lokasi kegiatan berpusat, sempit," ujarnya.

Untuk itu Mandan meminta masukan dan dukungan dari Pemkab Balangan serta pihak ketiga, untuk membantu mencari solusi atas permasalahan yang kemungkinan akan kembali terjadi pada tahun-tahun berikutnya ini, apabila tidak diantisipasi dari sekarang.

Dijumpai dalam kesempatan yang sama, Bupati Balangan H Ansharuddin berjanji akan membantu kalau masyarakat sekitar memang serius dan benar-benar ingin dibantu.

"Dalam artian, kita akan membebaskan lahan di sekitar Desa Kapul ini, namun masyarakat harus memberi dukungan dengan tidak mematok harga lahan di luar kemampuan anggaran pemerintah," imbuhnya.

Terpisah, salah satu pengunjung, Ahmad Fauzan mengungkapkan, sangat beruntung bisa datang ke gelaran festival Pesona Dayak Meratus yang menyajikan berbagai atraksi kebudayaan khas dayak Meratus.

Fauzan yang datang dari kota Banjarbaru ini mengaku, sangat puas terhadap sajian yang ditampilkan.

"Kalau bisa gelaran tahun depan festival pesona dayak Meratus ini lebih meriah lagi, dengan cara menambah acara yang ditampilkan lebih banyak dan beragam. Mungkin bisa diselipkan juga bagaimana ritual adat masyarakat Dayak Meratus. Karena itu yang paling menarik," ucapnya. (yud)

Kamis, 27 April 2017

Menengok Aktivitas Anak-anak di Pinggiran Kota yang Tumbuh Tanpa Handphone

Tinggal di daerah yang notabene masih di pinggiran perkotaan namun serasa di pedalaman, itulah kondisi yang dialami oleh warga Murung Binjai, anak desa Kusambi Hulu, Kecamatan Lampihong
-------------------------------------
MESKI terhitung bermukim di kawasan yang hanya berjarak beberapa menit dari jantung ibukota kabupaten, Paringin Kota, namun tidak menjamin warga bisa mendapatkan fasilitas umum yang layak dari pemerintah.
Tanpa listrik, PDAM dan Jalan rusak, seakan membuat kondisi  warga di Murung Binjai yang dihuni oleh 32 KK dengan sekitar 150 an jiwa ini seakan menjadi terpinggirkan dan terlupakan.
Hal ini terus dibiarkan dari tahun ke tahun hingga sekarang, tanpa ada tindakan dengan alasan skala prioritas. Inilah bukti jika pemerataan itu amat sulit diwujudkan, meski keadilan dan perubahan terus digaungkan.
Belum lama tadi, penulis menyempatkan diri untuk menengok aktivitas warga di sana. Waktu yang ditempuh untuk bisa mencapai Desa Kusambi Hulu dari Ibukota Balangan, Paringin, tak lebih dari setengah jam perjalanan.
Sampai di Desa Kusambi Hulu, di sebelah kanan jalan dari Paringin terpampang arah jalan menunjuk ke kanan bertulis Murung Binjai di muara gerbang.
Jarak dari muara hingga mencapai ke pemukiman warga RT 04 yang terisolir itu terhitung dekat, yaitu sekitar enam kilometer.
Namun, kondisi sepanjang jalan yang rusak parah membuat perjalanan yang harusnya bisa ditempuh sekitar sepuluh menit menjadi hampir dua kali lipat.
Siswa-siswi SDN Kusambi Hulu 2 berlarian keluar dari kelas sepulang sekolah, bertepatan saat penulis datang sekitar pukul 11.00 Wita.
Sekolah ini terdiri dari empat ruangan, satu digunakan untuk ruang dewan guru, tiga sisanya untuk kegiatan belajar mengajar. Mengantisipasi jumlah enam kelas, setiap ruangan dibagi dua dengan sekat triplek.
Sementara di sisi lain, para bapak melakukan transaksi karet dengan pengepul yang datang untuk memborong karet hasil sadapan warga, sebagai mata pencaharian utama menunjang ekonomi keluarga.
Di teras salah satu rumah, ibu-ibu tengah asyik mengobrol sembari tawar-menawar dengan penjual baju keliling yang mengkreditkan barang dagangannya.
Di anak desa ini hanya ada satu sekolah yakni SDN Kusambi Hulu 2, tidak adanya sekolah lanjutan di sana dan kondisi jalan yang rusak parah, membuat sebagian anak harus putus sekolah usai lulus SD.
Yani, salah seorang warga sekitar mengungkapkan, dua orang anaknya terpaksa tidak melanjutkan sekolah selepas menjadi alumni SDN Kusambi Hulu 2.
Alasannya, jalanan yang rusak sehingga membuatnya tidak mempercayakan anaknya untuk pergi sekolah ke luar desa, sementara ia sendiri tidak bisa mengantar karena mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari sejak pagi buta.
"Ya terpaksa putus sekolah, kalau saya yang antar jemput terus siapa yang cari nafkah untuk kehidupan sehari-hari kami di rumah?," ungkapnya.
Tidak sekolah dan tidak adanya aktivitas lain di desa, maka membantu orang tua bekerja pergi ke kebun untuk menyadap karet sebagai mata pencaharian utama warga setempat, menjadi satu-satunya pilihan yang harus diambil oleh anak-anak.
Ketua RT 04 Murung Binjai Jailani menuturkan, dulu Murung Binjai dihuni banyak penduduk, namun lantaran tuntutan zaman dan salah satunya untuk kepentingan pendidikan anak, maka warga memilih untuk pindah ke desa lain.
"Bagi mereka yang punya harta berlebih bisa membangun rumah di desa lain, dan ke sini hanya untuk berkebun. Sementara bagi yang pas-pasan tidak ada pilihan selain bertahan," tukasnya.
Untuk penerangan di rumah kala malam tiba kata dia, warga sebagian ada yang menggunakan genset, namun ada juga yang hanya memanfaatkan lampu tembok serta lilin.
Sementara untuk penerangan di jalanan desa, belum lama tadi ada bantuan beberapa colar cell dari perusahaan pertambangan yang beroperasi di Balangan.
"Kalau air bersih dulu sempat ada program Pamsimas masuk sini, tapi hanya lancar selama setahun," tukasnya.
Sehingga sekarang untuk mendapatkan air bersih warga mengandalkan sumur gali. Namun kalau musim kemarau tiba, maka mereka harus keluar desa untuk bisa mendapatkan air bersih.
Namun dari segala penderitaan itu, setidaknya warga tidak perlu khawatir anak-anaknya yang masih belia terpengaruh dari sisi negatif kemajuan tekhnologi elektronik.
Sepulang sekolah, anak-anak berkeliaran di segala penjuru desa, tidak ada handphone yang membuat mereka menjadi generasi nunduk, tidak ada televisi yang mendoktrin mereka tentang percintaan sejak dini.
Satu hal yang tak kalah penting, silaturahmi warga terjaga dengan baik, karena hanya ada satu tempat yang menjadi hiburan di saat senggang, yakni nongkrong sembari menyeruput secangkir kopi di warung. (yud)

Jumat, 03 Maret 2017

Ragam Balangan, Air Terjun Tayak

DI SAMPING menyimpan kekayaan solidaritas antar lima umat beragama yang hidup rukun di wilayahnya, Kecamatan Halong Kabupaten Balangan juga memiliki kekayaan alam berupa mineral, didukung keindahan alamnya yang begitu luar biasa.
Selain keindahan alam berupa deretan pegunungan Meratus yang di puncaknya kita dapat merasakan sensasi negeri di atas awan, di Halong juga dapat ditemui puluhan air terjun yang merupakan ciri khas daerah gunung.
Salah satu air terjun di Halong yang belakangan menyedot perhatian bukan hanya masyarakat Balangan namun juga luar daerah, yaitu air terjun Tayak, terletak di Desa Uren. Perlu waktu sekitar satu jam setengah untuk mencapai desa yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Timur ini dari ibukota Balangan, Paringin.
Meskipun tidak semulus jalan di daerah perkotaan dan pusat kecamatan, tapi akses jalan menuju Desa Uren bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda empat. Tentunya dengan ekstra hati-hati dan jeli memilih pijakan roda agar tidak amblas.
Di Desa Uren, kendaraan bermotor harus diparkir karena untuk ke air terjun Tayak hanya bisa jalan kaki. Waktu yang ditempuh bervariasi, tergantung kondisi stamina tubuh masing-masing dalam melintasi jalan setapak yang terdiri dari turunan dan tanjakan.
Bagi masyarakat dayak setempat yang sudah terbiasa hidup harmoni berdampingan dengan alam, hanya memerlukan 20 menit jalan kaki. Kalau stamina pas-pasan, maka yang diperlukan paling lama sekitar 50 menit termasuk waktu untuk istirahat.
Namun bila hujan tidak turun, setengah jalan menuju Tayak bisa dilewati dengan ojek sepeda motor yang disediakan warga sekitar.
Sayang, potensi wisata daerah ini belum mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah, pasalnya akses jalan untuk mempernyaman pengunjung datang tak kunjung diperbaiki, selain juga minimnya promosi yang dilakukan.
"Dulu saat pertama-tama dikenal setiap pekannya ada ratusan pengunjung dari berbagai daerah yang kesini, tapi sekarang jumlah itu sudah berkurang drastis," ujar Ahul, salah seorang warga sekitar.
Saat lagi ramai kata dia, kampungnya seperti pasar, banyak masyarakat sekitar memanfaatkannya untuk mengais rejeki, dari berjualan makanan dan kerajinan khas suku dayak Halong, jasa guide hingga ojek.
Selain air terjun tayak yang lebarnya mencapai enam meter dengan ketinggian 10 meter, di Halong juga terdapat air terjun Manyandar yang memiliki tujuh tingkat, hingga Riam Benawa dengan kontur tebing bebatuannya yang menawan dan lainnya. Tapi untuk sekarang hanya air terjun Tayak yang mudah diakses wisatawan. (yud)

Selasa, 09 Juni 2015

Perjuangan Gadis Kecil Bercita-cita Besar Dari Meratus

Jalan Kaki Delapan Jam Sehari
Ini kisah Pi’ik. Remaja dari Pegunungan Meratus ini setiap hari menembus hutan, mendaki gunung, dan menyisiri tubir bukit, menempuh perjalanan panjang , hanya untuk menuju sekolah. Satu lagi, inspirasi dari seorang anak negeri.
Malam masih menyisakan gelap saat Pi’ik Laura, 14 tahun, terbangun. Setelah mengerjakan rutinitas hariannya, mencuci dan memasak untuk kedua orangtuanya, dia mulai bersiap-siap.  Perjalanan jauh  menanti di depannya: menuju sekolah.  Jarak yang ditempuh gadis dayak ini setiap hari tak kurang dari 8 jam berjalan kaki pulang pergi, menanjak dan menurun.
Biasanya, pada terang tanah pertama, Pi’ik segera mulai berjalan. Tas sekolah dikepit di bahu kiri. Tak ketinggalan jaket yang selalu dikancingkan untuk menolak hawa dingin hutan dini hari. Ketika itu, tubuh kecilnya hanya terlihat berupa bayangan dalam keremangan hutan. 
"Dalam bahasa Dayak, Pi'ik itu artinya kecil,” ucap gadis periang ini mengisahkan kehidupannya. Dia mengaku  itu adalah nama pemberian ayahnya karena sewaktu lahir  mempunyai ukuran tubuh yang kecil dibandingkan anak biasanya.  Ayahnya, Tanar (50) adalah seorang petani dan pekebun, tipikal khas orang-orang Dayak yang hidup harmonis bersama alam. Tanar  memilih tetap tinggal di hutan, meski beberapa penduduk lainnya kini banyak yang sudah tinggal di desa-desa dan kecamatan.
Pilihan ayahnya ini berkonsekuensi bagi cita-cita Pi’ik.  Dia yang tinggal jauh di hutan akhirnya tidak memiliki akses ke pendidikan. Sekolah begitu jauh. SMPN 3 Halong, sekolahnya saat ini misalnya, berjarak empat jam jalan kaki. Sungguh, jarak yang sangat jauh.  Jika dibandingkan dengan  anak-anak di perkotaan atau kecamatan, perjalanannya menuju sekolah bisa dikatakan seperti sebuah perjuangan.
Tapi Pi’ik tidak menyerah. Tak seperti namanya, gadis berkulit putih ini menyimpan tekad yang besar. Dia ingin menjadi anak  pertama di Dusun Kurihai yang bisa mengalahkan jarak demi pendidikan. Apakah Pi’ik siap?
Mulanya orangtuanya tidak begitu yakin. Ayahnya bahkan melarang Pi’ik sekolah lantaran mempertimbangkan nyaris mustahil mencapai sekolah dari tempat tinggal mereka. “Ayah tidak tega membiarkan saya sendirian turun naik gunung,” ucap Pi’ik mengenang awal-awal dia mengutarakan niatnya untuk bersekolah.
Selain itu, ada faktor lain. Perekonomian keluarganya begitu memprihatinkan. Menjadi seorang petani yang sangat bergantung pada cuaca, membuat kadang-kadang keluarganya tidak bisa makan dengan layak. Ada hari-hari saat keluarga terpencil itu hanya memakan buah-buahan hutan dan meminum air yang tak pernah berhenti mengalir dari lereng Meratus, karena hasil panen tidak mencukupi kebutuhan keluarga.
Faktor ekonomi ini pula lah yang membuat Tanar tidak menyekolahkan anak-anaknya. Empat saudara perempuan Pi’ik semuanya tidak menempuh pendidikan formal. Sedangkan dua kakak lelaki Pi’ik hanya berhasil mengenyam pendidikan hingga kelas III sekolah dasar. Selebihnya, mereka menyerah dan mulai bekerja mencari penghidupan sendiri.  
Beruntung, kakaknya mewariskan buku-buku sekolah mereka di rumah.  Dari “warisan” inilah, rasa keingintahuan Pi’ik akan dunia luar dan kecintaannya akan pendidikan mulai bangkit.
"Saya memahami cara menulis dan membaca dari melihat kakak belajar. Sejak itu minat saya  untuk sekolah semakin tinggi," ujarnya.
Diam-diam, Pi’ik merencanakan sesuatu. Dia mulai mengidam-idamkan duduk di bangku sekolah. Dia mempelajari semua buku kakaknya, membaca dan menulis dari buku-buku itu. Saat keinginannya untuk sekolah sudah memuncak,  dengan modal nekad dia mendaftar sendiri di SD Kecil Ampinang Desa Mamigang, tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Sepulang dari mendaftar SD Kecil, barulah ia mengabari orangtuanya. Seketika ibunya  menangis. “ Tidak tahu harus memberi uang saku buat sekolah pakai apa?” ucap Tarik, ibunya saat itu seperti dikutip Pi’ik.  
"Saya bilang ke ibu tidak usah mikirin itu, bisa sekolah saja aku sudah senang," ucapnya riang. Karena iba, dengan berat hati, orangtua Pi’ik akhirnya bisa melepasnya untuk mengejar impian.   "Kadang kami khawatir terjadi apa-apa dengannya di jalan, tapi lambat laun kami sudah terbiasa," ujar Tanar.
SD Kecil Ampinang berlokasi tidak jauh dari SMPN 3 Halong tempat Pi'ik bersekolah sekarang, jaraknya hanya sekitar 500 meter lebih dekat dari SMPN 3 Halong. Setiap hari, Pi’ik menempuh rute yang sama. Itu termasuk 2,5 jam perjalanan turun gunung hingga tiba di Desa Ruwuk. Disini ia mampir di rumah seorang sepupunya. Tempat ia biasa menitipkan sepatu dan berganti pakaian seragam sekolah. "Ini sepatu pemberian teman baik, saya tidak mau rusak," tutur dara yang mengaku seragam sekolahnya adalah pemberian dari guru agama di sekolahnya.
Dari Desa Ruwuk, perjalanan ke sekolahnya masih sekitar 1,5 jam lagi. Melewati beberapa desa, yakni Ampinang, Mamigang baru sampai ke Desa Uren, tempat sekolahnya berada. Desa Uren sendiri terletak 2 jam perjalanan dengan kendaraan roda dua dari ibukota kabupaten, Paringin.
Namun, melewati jalur sisa ini kadang Pi’ik beruntung, ada pengendara motor yang lewat dan memberi tumpangan. Jika naik motor, waktu tempuh bisa dipangkas menjadi sekitar 15 menit. Artinya ia tidak terlambat sampai ke sekolah dan bisa mengikuti baris-berbaris seperti teman-temannya yang lain. Tetapi, seringnya Pi’ik terlambat sekitar 30 menit setelah menempuh perjalanan panjang dari rumahnya. “Biasanya para guru sudah memaklumi,” ucapnya ringan.
Bahkan, ketika masih SD, melihat kesungguhan anak-anak meratus seperti Pi’ik, dewan guru SD Kecil melonggarkan peraturan. Mereka tidak mewajibkan murid-muridnya supaya berseragam sekolah. Diakui Pi'ik ini merupakan kebahagiaan tersendiri, karena ia tak perlu memikirkan bagaimana membeli seragam. Ia baru memiliki seragam pada saat duduk di kelas dua SD.  
Rutinitas bersekolah yang tidak biasa ini  sudah berlalu enam tahun. Dan dari tahun ke tahun, bersekolah masih tidak mudah bagi Pi’ik. Dia hanya menjadi lebih terbiasa. Hawa dingin,  hamparan tanah becek, sesemakan tajam, kontur curam bukit,  adalah kendala yang harus  ditaklukan. Dan jangan lupa: babi hutan!
“Saya pernah dikejar babi hutan,” kenangnya lagi. Saat itu jalan licin karena hari hujan. Pi’ik terus berlari meski kakinya terluka dan berdarah. Ia kesakitan, tapi tak punya pilihan.
“Ya harus bangkit lagi, karena sekeras apapun menangis, tidak ada juga yang mengasihani dan bisa menolong. Akhirnya ke sekolah dengan kondisi basah dan seragam kotor,” ujarnya.
Pi’ik merasa sedikit banyak, dia dilindungi. “Satu hal yang tidak pernah saya lupa setiap sebelum berangkat sekolah, berdoa kepada Tuhan," ucap gadis yang bercita-cita menjadi guru ini. 

Selasa, 02 September 2014

Sarjana, Antara Pemberi Harapan dan Beban

Sarjana, Antara Pemberi Harapan Dan Beban
Oleh Wahyudi

"Engkau sarjana muda, resah mencari kerja, mengandalkan ijazahmu.
Empat tahun lamanya bergelut dengan buku tuk jamin masa depan...
Engkau sarjana muda, Resah tak dapat kerja, tak berguna ijazahmu.
Empat tahun lamanya, bergelut dengan buku, sia-sia semuanya...
Setengah putus asa dia berucap, maaf Ibu"

Lirik lagu karya Iwan Fals yang dirilis pada tahun 1981 dalam album Sarjana Muda tersebut, menggambarkan bagaimana seseorang yang telah berusaha untuk memperoleh titel sarjana yang sangat diimpikannya selama bertahun-tahun. Namun, setelah lulus dia mendapat tantangan dan kesulitan dalam mencari kerja. Dalam lagunya itu, penyanyi legendaris Indonesia yang akrab disapa bang Iwan tersebut, juga mencoba menggambarkan bahwa ijazah seorang sarjana tidak bisa menjadi jaminan seseorang untuk mendapat kerja. Makna lagu yang dirilis sejak 32 tahun lalu atau tepatnya pada masa Orde Baru tersebut, masih terasa bahkan hingga sekarang.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Nasional (BPSN), sejak Januari 2013 hingga Juli 2013, di Indonesia tercatat sekitar 500.000 lulusan dari sekitar 2.900 perguruan tinggi yang menjadi pengangguran. Sungguh tragis, dan tentu saja tidak ada seorang sarjana pun yang mau menjadi salah satunya.
Berangkat dari sana, tidak heran banyak sarjana takut - atau dalam bahasa gaulnya galau - tidak bisa mendapat kerja. Bermacam pikiran buruk menyeret ke arah rasa khawatir mengenai kerja apa nanti setelah lulus kuliah. Bahkan, perasaan itu sudah muncul ketika si calon penyandang gelar menginjak semester lima ke atas. Karena, pada masa-masa seperti itulah pikiran ingin hidup mandiri guna mengurangi beban orang tua mulai muncul dalam benak, terlebih bagi anak laki-laki. Akan tetapi, masih adanya rasa ingin menikmati masa muda, seakan mengalahkan segalanya.
Sejatinya, pada masa-masa itulah seorang mahasiswa/mahasiswi harus sudah mulai menyusun puzzle-puzzle masa depannya agar tidak berantakan. Mahasiswa yang sudah mulai memikirkan kerja sejak dini, pastinya sudah mempunyai bayangan atau gambaran dimana masa depannya setelah kuliah bakal berlabuh.
Ada bermacam pandangan dari berbagai kalangan mengenai banyaknya angka pengangguran berpendidikan di negeri tercinta ini. Salah satu sumber mengungkapkan, keliru dan gegabah dalam mengambil jurusan sewaktu pertama mendaftar kuliah, menjadi salah satu faktor utama penyebab seorang mahasiswa akan galau saat memasang toga. Kekeliruan tersebut akan berdampak negatif pada proses pencapaian akademik di kampus.
Rasa kurang semangat dan bermalas-malasan dalam mengikuti proses pembelajaran di kampus tidak dipungkiri pasti akan muncul dalam diri, yang kemudian berdampak pada rasa tidak terlalu peduli dengan nilai dan ilmu yang didapatkan, hal itu berujung pada tidak menguasainya si mahasiswa dengan jurusan yang dia ambil.
Selain itu, yang paling banyak didapati dan menjadi alasan bagi seorang sarjana tidak mendapat pekerjaan, juga disinyalir lantaran terlalu memilih-milih pekerjaan dengan harapan mendapat gaji besar. Masyarakat yang tengah berkembang, memang menempatkan tujuan akhir dari program pendidikan pada teraihnya lapangan kerja yang diharapkan. Atau setidak-tidaknya, setelah lulus dapat bekerja di sektor formal yang memiliki nilai "gengsi" lebih tinggi di banding sektor informal. Padahal dewasa ini lapangan kerja di sektor formal mengalami penurunan, seiring dengan semakin melemahnya kinerja sektor industri dan produksi manufaktur yang berorientasi ekspor di negara ini. Melemahnya sektor tersebut secara langsung menyebabkan berkurangnya permintaan untuk tenaga kerja terdidik. Dengan kata lain, adanya informalisasi pasar kerja menjadi salah satu indikator utama penyebab menumpuknya pengangguran berpangkat sarjana di Indonesia. Sebenarnya, banyak sektor informal yang masih membutuhkan tenaga kerja, seperti sektor pertanian, kelautan, perkebunan, dan perikanan. Namun rata-rata sang sarjana tak mau bekerja di tempat-tempat seperti itu dan mereka umumnya juga tidak mau memulai karir dari bawah.
Paradigma seperti itu, menjadi penghalang utama bagi sarjana dalam melepas status penganggurannya setelah lulus kuliah, apalagi bagi lulusan S1 yang belum mempunyai pengalaman kerja dan hanya bermodalkan gelar disertai secarik kertas.
Clignet (1980), dalam hasil studinya juga memaparkan gejala meningkatnya pengangguran terdidik di Indonesia, diantaranya yakni adanya keinginan memilih pekerjaan yang aman dari resiko, seperti pekerjaan yang nyaman namun menghasilkan gaji besar. Dengan kata lain, golongan sarjana yang mempunyai prinsip seperti itu, lebih suka memilih menganggur daripada mendapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Ada juga beberapa pendapat yang mengatakan, menumpuknya pengangguran berpendidikan tidak terlepas dari kualitas intelektual seorang sarjana. Artinya, kebanyakan titel sarjana hanya sebagai gelar semata, tidak diiringi dengan kualitas yang mumpuni baik itu dari segi mental, kemampuan dan kreatifitas. Dan sudah menjadi rahasia umum, bahwa faktor kualitas intelektual menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan-perusahaan besar dalam menerima tenaga kerja.
Jadi, janganlah terlalu memilih-milih pekerjaan, tidak ada salahnya memulai suatu pekerjaan yang sesuai kemampuan walaupun dengan gaji kecil, sekedar untuk mencari pengalaman sembari mulai meniti karir dari bawah.
Pengangguran terdidik juga sangat berkaitan dengan masalah kependidikan yang berkisar pada masalah mutu pendidikan. Seorang sarjana, harusnya dibekali dengan keterampilan di luar kompetensi utama mereka sebagai sarjana. Karena, untuk menjadi seorang lulusan yang siap kerja, sarjana perlu tambahan keterampilan di luar bidang akademik yang mereka kuasai.
Sejatinya, perguruan tinggi adalah wadah yang mampu mencetak sumber daya manusia unggul dengan pengetahuan dan wawasan luas, sehingga menjadi pemberi harapan bagi masyarakat. Ironinya, fakta di lapangan sekarang berkata lain. Begitu seorang mahasiswa menyandang gelar sarjana, mereka disibukkan dengan aktifitas mencari kerja ke berbagai perusahaan. Singkatnya, lembaga pendidikan di Indonesia hanya menghasilkan pencari kerja, bukan pencipta kerja. Miris sekali.
Sementara itu, Sofyan Effendie, Anggota Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) dalam salah satu kesempatan - seperti yang diberitakan oleh Detik.com – mengkritisi, tidak berkembangnya pendidikan tinggi di Indonesia saat ini, karena selama ini mereka meluluskan sarjana yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, sekarang ini ada kecenderungan ketidaksesuaian tenaga-tenaga yang diperlukan oleh masyarakat. Disaat masyarakat lebih membutuhkan mahasiswa yang menjadi teknisi, perguruan tinggi lebih banyak mengeluarkan sarjana yang berlatar akademisi. "Masyarakat kita itu sebenarnya lebih banyak membutuhkan teknisi daripada akademisi. Akibatnya apa? Banyak sarjana pengangguran yang dihasilkan dari perguruan tinggi di negeri ini. Masyarakat lebih butuh teknisi, tapi perguruan tinggi lebih banyak menghasilkan akademisi," sesalnya.
Mantan rektor UGM ini juga memaparkan, lulusan perguruan tinggi berlatar akademik di Indonesia saat ini mencapai angka 82.5 persen, sebaliknya yang berlatar vokasi hanya berkisar 17,5 persen. Padahal kata dia, kebutuhan yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini adalah 75 persen, yang mana itu adalah tenaga teknisi.
Hingga saat ini, ada jutaan sarjana di negeri ini. Jumlah itu tentunya akan semakin bertambah dan terus bertambah seiring meningkatnya populasi penduduk serta kemajuan ilmu dan teknologi. Di satu sisi, ini merupakan kabar gembira karena masyarakat Indonesia sudah mulai sadar akan pentingnya pendidikan, namun minimnya lapangan pekerjaan menjadikannya sebagai kabar buruk di sisi yang lain. Karena jumlah pengangguran akan kembali bertambah.
Lantas apa solusi mengurangi angka pengangguran berpendidikan? Sembilan dari sepuluh orang berpendapat, hanya ada satu cara untuk menghindarinya, yakni menciptakan lapangan kerja. Lapangan kerja hanya bisa diciptakan oleh orang yang bermental pengusaha bukan pekerja. Dan SDM yang sangat berpeluang untuk membuka lapangan kerja yakni sarjana. Tentunya dengan segala pengetahuan dan wawasan yang dimilikinya.
Kemandirian selama kuliah dengan sambil bekerja walaupun hanya sebagai buruh terlebih berwirausaha kecil-kecilan sesuai jurusan yang diambil, tentunya memberi pengaruh tersendiri bagi si sarjana setelah dia lulus kuliah. Pengalaman yang didapat dalam bekerja ketika masih kuliah, menjadi nilai tambah baginya agar terus bisa bertahan hidup di tengah kerasnya dunia.
Di setiap perguruan tinggi manapun, bahkan yang dianggap bonafit sekalipun, pasti banyak ditemui mahasiswa yang kuliah sambil berbisnis. Ada yang sambil mengajar di sekolah, di bimbingan belajar, membuka les privat, bekerja di restoran dan cafe, jualan bakso bahkan jadi tukang becak. Mereka bekerja dengan motivasi berbeda-beda. Demi menutupi biaya kuliah, meringankan beban orang tuanya yang kurang mampu dan ada yang memang keinginan sendiri untuk mandiri.
Jika kita merujuk pada profil pebisnis kelas dunia yang membuka usaha sendiri sembari kuliah, seperti Bill Gates si raja Microsoft yang memulai bisnis dari garasi rumahnya dan sempat dikeluarkan dari bangku perkuliahan, tentunya merupakan pilihan yang sama sekali tidak salah untuk berwirausaha sambil kuliah. Nasib seseorang tidak akan berubah kalau orng itu sendiri tidak berusaha untuk merubahnya.
Harus kita akui, kaum wirausaha menentukan nasib banyak orang, karena merekalah pencipta lapangan kerja. Sementara itu, dari sekitar 240 juta jiwa penduduk Indonesia, kaum wirausaha hanya berjumlah sekitar 0,24 persen atau sekitar 500.000 orang, tidak sebanding dengan banyaknya jumlah penduduk. Dibandingkan dengan negara tetangga, jumlah kaum wirausaha di Indonesia belum seberapa, jumlah kaum wirausaha Singapura mencapai 7 persen dari jumlah penduduknya, Malaysia 5 persen dan Amerika yang negara maju mencapai 11 persen (Kompas.com).
Dari laporan Asian Development Bank (ADB) yang dirilis pada tahun 2010 silam, dari 240 juta penduduk Indonesia, jumlah orang miskinnya menyentuh angka 43,1 juta jiwa.
Sudah saatnya bagi kaum intelektual berpangkat sarjana untuk berdiri di garda terdepan guna menyelesaikan permasalahan bangsa berupa pengangguran. Aksi kepahlawanan di jalanan seperti demonstrasi menyuarakan aspirasi rakyat di saat menjadi mahasiswa, digantikan dengan aksi nyata menjadi wirausaha, ikut menyejahterakan rakyat di saat lulus dan bergelar sarjana. Bukannya ikut membebani masyarakat dengan status pencari kerja. (*)